Oct 06 2007
Monopoli Telekomunikasi (1) Temasek Selalu Mendapatkan yang Terbaik
AKARTA – Temasek Holding, grup investasi asal Singapura, berkali-kali dipermasalahkan. Giliran terakhir, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) melihat adanya indikasi persaingan usaha yang tidak sehat di industri telekomunikasi Tanah Air.
KPPU tentunya sedang membidik Temasek. Pasalnya grup investasi itu disinyalir telah melakukan monopoli industri telekomunikasi karena kepemilikan silangnya di dua raksasa telekomunikasi
Indonesia yakni Telkomsel dan Indosat. Temasek memang tidak langsung menguasai kedua perusahaan itu, melainkan lewat anak usahanya.
Temasek mulai menunai kritik pada saat anak usahanya yakni Singapore Technologies Telemedia (STT) membeli 41,94 persen saham Indosat senilai USD631 juta pada 2002. Kerumitan pun muncul. Pasalnya, Temasek juga memiliki saham sebesar 35 persen di Telkomsel melalui anak usahanya, SingTel.
Kepemilikian Temasek di dua raksasa telekomunikasi ini menjadi bulan-bulan berbagai pihak. Wajar saja hal itu terjadi, karena Telkomsel dan Indosat jika digabungkan penguasaan pasarnya jelas mendominasi. Telkomsel menguasai 56,72 persen dan Indosat 27,71 persen. Baru kemudian disusul Excelcomindo Pratama yang menguasai 15,57 persen. Melihat angka itu, secara tidak langsung Temasek menguasai 80 persen pangsa pasar seluler di
Indonesia.
Itulah yang kini dipermasalahkan oleh KPPU. Lembaga pengawas ini melihat ada indikasi persaingan usaha yang tidak sehat. Konon, data yang menguatkan KPPU melakukan pemeriksaan atas Temasek ini adalah hasil kajian dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat, Fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia (LPEM-UI).
Temasek berdalih bahwa mereka tidak melakukan praktek monopoli. Mereka juga tidak pernah melakukan penyeragaman tarif (price fixing). Melalui berbagai lembaga yang ada di Tanah Air, Temasek balik menyerang KPPU yang dinilai gegabah menggunakan data dari LPEM-UI atas kajian menyangkut persaingan di industri telekomunikasi. Bahkan, kongsi Temasek, menuding balik kajian LPEM-UI jauh dari sikap akademisi yang independent. Kajian LPEM-UI disebut sebagai pesanan dari Alfa Group, yang merupakan induk perusahaan telekomunikasi Rusia Altimo yang konon bernafsu masuk ke Indosat.
Kiprah Temasek sebenarnya tidak berhenti di telekomunikasi saja. Kampium investasi ini ternyata telah merambah pula di sektor-sektor lain yang tergolong strategis termasuk perbankan dan bahkan kabar terakhir disebut-sebut Temasek telah masuk ke Astra International.
Temasek melalaui berbagai anak usaha dan konsorsium kini tercatat menguasai sejumlah bank nasional secara tidak langsung. Bank-bank yang secara tidak langsung dikendalikan Temasek adalah Bank Danamon, Bank Internasional Indonesia (BII), Bank NISP, Bank UOB Buana, dan Bank Permata.
Kukuhnya Temasek di industri perbankan makin lengkap karena Bank Permata yang sekira 44,50 persen sahamnya dikuasai PT Astra International dan 44,50 persen dimiliki Stanchart, keduanya kini menjadi salah satu kepanjangan tangan dari Temasek. Pasalnya 12 persen saham Stanchart dikuasai Temasek, sedangkan Astra International sekira 50,11 persen sahamnya dikuasai oleh Jardine Cycle & Carriage (JCC) yang kini juga sudah dibeli Temasek.
Rupanya Temasek makin menggurita di Tanah Air dan mereka selalu mendapatkan investasi di perusahaan terbaik di Tanah Air. (mbs)
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.
Not A Member? Register for Free!






